Layangan Buntok Tekkang Tradisi Desa yang Hidup dalam Angin Kencang dan Lampu Warna-Warni
Dikala angin
kencang menyapa, langit Desa Trebungan, spesialnya di Dusun Sokaan Utara RT 001
RW 008 Desa Trebungan Kecamatan Mangaran Kabupaten Situbondo, jadi saksi bisu
dari suatu tradisi yang telah turun temurun. Layangan tekkang, layangan khas
yang terbuat dengan tangan terampil oleh masyarakat setempat, mulai terbang
besar, menari- nari di hawa menjajaki hembusan angin yang tidak henti. Untuk
mereka, layangan bukan semata- mata game, melainkan bagian dari budaya yang
mempererat kebersamaan serta semangat kolektif yang hidup dalam tiap bunyi dari
sabengan yang menjajaki Geraknya (akepek).
Di tengah riuhnya suara angin, terdapat satu nama yang tidak lepas dari pembuatan layangan tekkang di desa ini: Junaidi. Seseorang pembentuk layangan yang sudah memahami seni ini semenjak muda, Junaidi jadi wujud berarti dalam melestarikan tradisi ini di Dusun Sokaan Utara. Dengan tangan terampilnya, dia merangkai bambu jadi kerangka kuat serta memilah kertas bermutu buat tiap layangannya. Tiap perinci dikerjakan dengan penuh ketelitian, serta layangan- layangan yang dihasilkan tidak cuma indah namun pula sanggup bertahan terbang besar walaupun diterpa angin kencang.
Layangan tekkang, yang mempunyai wujud khas serta simpel, mulai ramai diterbangkan oleh masyarakat, paling utama dikala angin kencang tiba. Kala sore berubah malam serta angin masih setia berhembus, atmosfer terus menjadi meriah dengan bonus yang tidak biasa: lampu warna- warni. Masyarakat mulai memasang lampu kecil yang berkelap- kelip pada tiap layangan, menghasilkan panorama alam yang tidak terlupakan. Layangan- layangan yang semula nampak semacam bayangan gelap di langit, saat ini jadi titik- titik sinar yang menari, berikan warna pada malam yang hitam.
Panorama alam ini bukan cuma semata- mata hiburan, melainkan pula simbol dari semangat masyarakat Dusun Sokaan Utara Desa Trebungan yang tidak sempat padam. Walaupun malam tiba, layangan- layangan itu senantiasa terbang besar, seakan melawan kegelapan serta menampilkan betapa kuatnya jalinan yang tercipta lewat tradisi ini. Layangan yang diterbangkan dengan lampu warna- warni jadi semacam bintang- bintang yang bergerak di langit malam, berikan keelokan serta kegembiraan untuk seluruh yang melihatnya.
Junaidi, selaku pembentuk layangan, senantiasa merasa bangga memandang karya- karyanya mengisi langit desa dengan sinar. Menurutnya, lampu- lampu itu bukan cuma semata- mata hiasan, melainkan simbol dari kehidupan yang penuh warna, harapan, serta kebersamaan. Apalagi, dia dengan bahagia hati mengarahkan kanak- kanak muda desa buat membuat layangan, dan berikan ketahui mereka gimana memasang lampu warna- warni dengan hati- hati supaya layangan dapat terbang dengan nyaman serta indah.
Kala angin kencang menyapa serta malam datang, layangan tekkang dengan lampu warna- warni jadi lambang dari kegembiraan yang tidak sempat padam. Ini merupakan tradisi yang terus hidup, mengikat generasi lama serta baru, serta jadi bagian tidak terpisahkan dari bukti diri Desa Trebungan, spesialnya Dusun Sokaan Utara. Tradisi ini menegaskan kita hendak berartinya melindungi peninggalan budaya, walaupun era terus berganti.
Reporter : Kiki Lontar
Tidak ada komentar: